Rabu, 29 Juni 2016

"JALUR PENDAKIAN RINJANI TERBARU"

Ini dia jalur terbaru pendakian Gunung Rinjani... Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) baru saja membuka jalur baru menuju Danau Segara Anakan melalui Desa Air Berik, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah.
jalur pendakian gunung rinjani
Air Terjun Benang Stokel
Jalur pendakian Gunung Rinjani Aik Berik baru resmi dibuka 20 Mei 2016. Sebenarnya, jalur ini sudah lama digunakan beberapa pendaki, namun belum sepopuler jalur Senaru dan Sembalun. BTNGR baru meresmikan jalur ini karena mempertimbangkan animo pendakian Gunung Rinjani.
Jalur ini relatif lebih dekat jika dibandingkan dengan jalur pendakian Rinjani via Sembalun. Jika melewati jalur ini, para pendaki membutuhkan waktu sekitar 8 jam untuk mencapai Danau Segara Anakan. Terpaut 2 jam lebih cepat dari jalur Sembalun yang memerlukan waktu 10 jam untuk sampai di Segara Anakan.
Jika Anda mendaki melalui jalur ini, Anda tak perlu khawatir untuk kekurangan persediaan air. Karena Anda bisa memperoleh 6 sumber mata air di sepanjang jalur pendakian Gunung Rinjani Aik Berik. Keenam sumber mata air tersebut adalah Sungai Tereng, Sungai Geres, Monte, Pondok Amak Ros, Sungai Umar Maye dan di Sungai Terakhir yang berada di bawah Pelawangan Umar Maye.
Mendaki melalui jalur Aik Berik mempunyai beberapa keuntungan. Selain jarak waktu tempuh yang lebih singkat, Anda akan disuguhi panorama alam yang indah dan hutan yang lebat. Trek pendakian juga cenderung lebih landai. Bonusnya lagi, Anda bisa bertemu aneka ragam satwa hutan liar seperti rusa, babi rusa, landak, dan berbagai jenis burung.
Untuk mencapai jalur baru ini, Anda bisa terbang menuju Lombok Tengah. Setelah itu, Anda bisa menggunakan mobil atau kendaraan lain menuju kecamatan Batukliang. Dari Batukliang, Anda pergi menuju Desa Aik Berik.
Dengan resmi dibukanya jalur pendakian Gunung Rinjani Aik Berik berarti total terdapat 4 jalur pendakian Gunung Rinjani. Tiga lainnya yaitu Jalur Timbanuh Kecamatan Pringgasela, Jalur Sembalun Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur, dan Jalur Senaru Kabupaten Lombok Utara.

("RUMAHKU,ISTANAKU, SYURGAKU....")

Sebuah rumah kecil berdiri di pinggir jalan, sebuah kampung di desaku.. sederhana, namun penuh makna, makna perjuangan dalam kehidupan. Tempat aku dan keluarga kecilku bernaung, tempat dimana kami setiap pagi berangkat mencari rizki, menuntut ilmu, hingga saat kami harus kembali pulang...

Tempat istirahat sederhana yang terbangun dari asa dan harapan, tempat berteduh dari terik mentari dan hujan. ya Inilah rumahku, syurgaku adalah rumahku, setidaknya inilah yang dapat ku ungkapkan. Perasaan Syukur atas kemurahan Tuhan ketika hamba mempunyai keinginan dan terus berjuang tuk meraihnya. "ISTIQOMAH"...

Rasa syukur juga tak lepas dari pengalaman sejak kecil saat orang tuaku yang PNS kelas rendah membawa kami (tiga bersaudara) pindah rumah (dinas) setiap 3/4 tahun. Baru pada saat menginjak kelas II SMU akhirnya sebuah rumah terbeli oleh bapak dari sisa-sisa gaji selama bertahun-tahun...

Dan..
Kini dalam usia 5 tahun perkawinan, aku dapat membangun "RUMAH IMPIAN" yang dulu sangat sulit terwujud dalam keluarga kami... Segala Puji bagiMu Allahu Rabbi... Terima kasih bapak-ibu, atas segalanya hingga saat ini..Istriku tercinta yang mendampingi sejak Pertama Ijab Qabul hingga saat ini menjelang kelahiran putra ketiga kita... Anak-anakku yang telah mewarnai hari-hariku menjadi penuh keceriaan...


Selasa, 28 Juni 2016

KERAJINAN ANYAMAN BAMBU DESA LOYOK (identitas yang mulai memudar....)


Miniatur Alang (Balai khas Lombok)

Pada tahun 1990 an kerajinan anyaman bambu di Desa Loyok Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur sangat terkenal hingga ke Mancanegara, mulai dari ASIA Tenggara, Amerika, Eropa dan lain-lain, salah satu yang saya ingat adalah seorang Ibu Guru Seni bernama Patt Grayston dari Shellbrook, Canada.

Saat itu saya masih di bangku Sekolah Dasar di sebuah Dusun desa Montong Ba'an, hampir setiap kali ke rumah almarhum Niniq (Kakek) selalu menjumpai inaq-inaq, dedare-dedare, kanak-kanak, sedang sibuk "ngulat" (menganyam). 

Ibu-ibu muda sedang membuat anyaman "GANDEK" pesanan.
 Bahan baku berupa bambu sangat mudah ditemukan sehingga hampir disetiap halaman rumah pasti ditemukan bilah-bilah bambu yang sedang dijemur untuk diolah menjadi berbagai bentuk kerajinan. Penulis juga masih mengingat bahwa pada saat itu salah satu mata pelajarran di sekolah adalah "Muatan Lokal (Mulok) yang materinya adalah "Membuat anyaman dari bambu".


 Tahun-tahun gemilang "Kejayaan Kerajinan Anyaman Desa Loyok" membawa berkah yang lumayan bagi para pengrajin dan bahkan para pemuda-pemuda desa, karena mereka dapat mengumpulkan uang dari menerima pekerjaan dari pengusaha-pengusaha "ART SHOP" yang mendapat pesanan dari Bos-Bos eksportir dari Bali dan Daerah lainnya. Para pengusaha ART SHOP banyak yang sukses... Namun tanpa disangka situasi yang cukup nyaman itu terhenti karena peristiwa "Bom Bali" meletus, Pengusaha dan pengrajin anyaman pun harus menerima dampaknya. Pesanan terhenti dan para pengrajin harus mencari pekerjaan tetap lainnya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Saat ini masih tersisa sedikit saja "ART SHOP di Desa Loyok, itu karena sang pemilik ART SHOP juga menekuni pembuatan kerajinan anyaman bambu, meskipun pesanan(order) dari Pengusaha hanya sedikit.
Hal ini juga sangat berpengaruh terhadap minat generasi muda, terutama anak-anak untuk mempelajari cara pembuatan berbagai anyaman bambu ini. Dibutuhkan adanya pembinaan dan perhatian dari pemangku kebijakan di Daerah (Kabupaten dan Propinsi) untuk melestarikan Budaya, Keterampilan yang sudah sejak lama menjadi IDENTITAS Desa ini.





Sebuah kebetulan pada bulan Mei lalu penulis melaksanakan tugas sensus dari sebuah institusi, dan salah satu usaha yang menjadi objek sensus adalah para pengrajin anyaman bambu. Ternyata selama ini para pengrajin itu hanya melakukan pekerjaan (menganyam) untuk mengisi kekosongan waktu mereka. Karena imbal jasa yang mereka dapatkan tidak seberapa, bahkan menurut saya sangat tidak pantas. namun inilah realitas yang ada di depan mata.... Banyak diantara mereka yang mengira saya akan datang mencatat nama mereka untuk mendapatkan "BANTUAN" dari pemerintah, namun saya hanya bisa menjawab dengan senyum, senyum yang mereka artikan dengan HARAPAN akan datangnya sebuah Program pemberdayaan (Optimisme berlebihan karena pengalaman sebagai pendamping Program heheheheee..)


Semoga dengan terbitnya tulisan ini ada Pihak yang memberikan respons positif baik berupa saran, syukur-syukur ada Program Pemberdayaan demi Tumbuh dan Berkembangnya perekonomian masyarakat seiring dengan semakin meningkatnya kunjungan touris Mancanegara berkat adanya BANDARA INTERNASIONAL serta Program Pemerintah Propinsi NTB VISIT LOMBOK SUMBAWA, semoga juga ada Visit LOYOK dan lainnya, Amin...

Selasa, 05 April 2016

LKM DESA : Solusi Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan

http://www.kancantaradio.com/lkm-desa-solusi-pengembangan-ekonomi-masyarakat-pedesaan/

Copas dari Website diatas, karena hal ini terkait dengan pekerjaan sebagai Penyelia Mitra Tani... Sosialisasi OJK sudah sampai ke tingkat Kecamatan di Kombok Timur..



Posted on 01/04/2016 by kancanta

Lotim, kancantaradio.com – Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Desa merupakan lembaga yang bergerak dalam bidang pelayanan jasa keuangan yang hadir sebagai solusi untuk mengatasi sejumlah kendala yang dihadapi masyarakat terkait peminjaman modal yang sedikit rumit pada lembaga keuangan formal. Meskipun sebenarnya, pemerintah telah mengeluarkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dihajatkan bagi pengembangan perekonomian di tataran akar rumput dengan bunga pinjaman rendah. Namun, program kredit lunak tersebut, jarang sekali dinikmati masyarakat kecil karena terkendala persyaratan perbankan. Dengan lahirnya LKM Desa yang didasari keluarnya Undang-Undang Nomor I Tahun 2013 Tentang LKM akan dapat memfasilitasi masyarakat pengusaha mikro untuk mendapatkan kredit lunak.

Melalui program KUR, pemerintah telah menyalurkan dana cukup besar bagi pengembangan ekonomi masyarakat yang merupakan bagian dari semangat Nawa Cita Presiden Joko Widodo yang menginginkan pembangunan Indonesia dari pinggir, yakni dari pedesaan. Pada tahun 2015, dana KUR yang disalurkan pemerintah dari APBN sebesar 30 Trilyun. Jumlah tersebut ditingkatkan menjadi 103 Trilyun tahun 2016.
“Banyak masyarakat yang tidak mendapatkan akses KUR. LKM Desa hadir sebagai penyambungnya dengan masyarakat. Masyarakat sebenarnya banyak yang layak mendapatkan kredit tersebut. Namun, karena terkendala persyaratan perbankan yang cukup selektif. Dengan adanya LKM Desa yang dikelola Pemerintah Desa akan lebih memudahkan masyarakat. Karena Kepala Desa akan mengetaui pasti kondisi masyarakatnya yang layak mendapatkan kredit”, ungkap Roberto Akyuwen, Analis Eksekutif Senior Bidang Pengembangan LKM Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Pusat di Aikmel, Kamis (31/3).

Lembaga Keuangan Mikro (LKM) sudah banyak dibentuk untuk memberikan layanan jasa keuangan bagi masyarakat. Saat ini sudah lebih dari 637 ribu LKM di seluruh Indonesia. Di tingkat desa dinamakan LKM Desa, di kecamatan disebut LKM Kecamatan dan begitu juga di tingkat kabupaten dengan nama LKM Kabupaten. Karena prinsip utama pendirian LKM adalah untuk membangun masyarakat lokal. LKM hanya bersifat melayani masyarakat setempat. LKM Desa hanya akan melayani masyarakat di desa setempat. Begitu seterusnya dengan LKM Kecamatan yang akan melayani masyarakat di lingkup kecamatannya dan sama halnya dengan LKM Kabupaten yang hanya akan melayani masyarakat yang ada di wilayah kabupatennya.


Selasa, 29 Desember 2015

Mencapai Asa... PUNCAK RINJANI (1)


Pertengahan Ramadhan 1436 Hijriah / Awal Bulan Juli 2015...

Terdorong rasa penasaran karena selama tiga puluh satu tahun hanya memandangi keindahannya dari kejauhan, hanya pernah mendengar cerita dari teman dan keluarga yang melakukan pengobatan / terapi di “Aik KALAK” akhirnya aku memutuskan untuk ikut bergabung dengan Kak Iwan, Paman Semmy, Pak Guru Ahsan, Cikgu Samm mendaki Gunung Rinjani pada tanggal 20 Juli 2015 (3 hari setelah Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah) 

Berbagai persiapan aku lakukan antara lain selalu menyempatkan olah raga, karena saat itu bulan PUASA sekedar jalan cepat setiap pagi setelah shalat Subuh dan setelah berbuka puasa (sekalian nurunin makanan) atau main bola di halaman rumah sama anak-anakku, minum vitamin 2 kali sehari saat berbuka puasa dan sahur. Karena ini baru pertama kalinya, aku tidak punya perlengkapan Gunung sehingga harus beli Jaket Parasut, Celana Gunung dan Sarung Tangan. Sementara sepatu, masker, head lamp, dan lain-lain aku pinjem. Selain itu kami juga urunan untuk sewa tenda, sleeping bag, tas caril, transport PP, Bahan Makanan, Obat-obatan dll. Dan, ternyata... Kalo mau mendaki gunung itu musti kaya (persiapan ini, itu, lumayan juga biayanya)

Senin, 20 Juli 2015 Saat yang dinanti tiba....


Sekitar jam 05.00 aku sudah bangun, mempersiapkan segala sesuatu dalam tas kecil/tas depek. Setelah Shalat aku berangkat ke Praya dulu karena ada laporan yang akan kutitipkan pada salah seorang teman kantor. Jam 07.30 aku sudah sampai di rumah, dan langsung bergegas karena mobil Panther Open cab yang mngantar kami sudah di depan rumah. Lima belas menit kemudian kami berangkat...


Pendakian di Mulai...


Sekitar Jam 12.00 kami tiba di Sembalun Lawang, setelah memeriksa kelengkapan tas dan perlengkapan lainnya kami berangkat. Namun sebelum itu... Berdo’a Dulu.. Semoga semua berjalan lancar tanpa hambatan... Amin...


Dengan restu orang tua... kami brangkatttt...



Banyak Momen yang tak ingin kami lewatkan begitu saja sambil istirahat, JEPREEEET....
Mungkin ini salah satu yang membuat perjalanan kami sangat-sangat santai... 

Sbelum masuk hutan, makan jeruk dulu...
 
Pos I, tempat dimana perut ini mulai ga karuan, mules dll.. untung ada Madu..


Pos II, Istirahat Sholat ashar di sini, sembari ambil air buat masak. Mata airnya tuh tidak lebih besar dari air ken....

Lupa persisnya jam berapa, POS II (Tengean) disini kami istirahat untuk Shalat Ashar dan Ngambil air untuk memasak karena di Pos III tidak ada Mata Air, sementara kami akan bermalam di pos III (Kokoq Besi)

            Perjalanan dari POS II menuju Pos III kami rasakan sangat jauh karena kaki mulai terasa berat, sementara matahari mulai redup dan akan segera tenggelam. Oleh karena itu kami mempercepat langkah agar sampai di Pos III sebelum gelap. Informasi yang kami peroleh dari beberapa orang yang berpapasan dengan kami ternyata Pos III penuh dengan tenda pendaki. Dan sekitar 100 meter sebelum sampai Pos III kami melihat ada tanah agak lapang dibawah jembatan KokoQ Besi dan tanpa fikir panjang kami turun dan melepas Cariel masing masing. Tenda didirikan dan kamipun langsung berpencar karena perut sudah nggak tahan pengen mengurangi bebannya hehehe... Setelah masing-masing anggota tim melaksanakan tugasnya kami shalat Magrib bergantian, lalu makan malam, shalat Isya trus minum kopi sambil bikin api unggun...Jadi inget masa-masa SMU, (aktif di Pramuka) saat-saat Rihlah sama temen kampus dulu.. Mantabbbb,

Selasa 21 Juli 2015...

          Jam 06.30 pagi kami sudah berangkat menuju ke Pos PELAWANGAN yang katanya paling jam 12 siang sudah sampai, tapi alamaaakkk....??? ini dia pertarungan sebenarnya, jalannya menanjak terus dan lagi dan satu bukit terlewati masih ada lagi didepannya...
Hampir sampai ditempat bernama Cemara Gupung...


kita kesanaaa 






Akhirnya......

            Sekitar jam 2 siang aku tiba di Pelawangan Sembalun, rame banget... dari ujung sampai ujung dekat pepohonan cemara penuh dengan tenda. Hampir tidak ada tempat landai yang kosong, kecuali di dekat posko yang sudah di Booking oleh “Tim Jejak Petualang” kata salah seorang temen dari Masbagik yang menjadi pemandu mereka.. Selain Tim Jejak Petualang sekitar 60 orang, ternyata ada Tim Pendakian Santai Rinjani dari Jakarta sekitar 120 orang, belum touris mancanegara yang terpencar disana sini, pendaki lokal tradisional yang hanya membawa tarpal dan tikar, dan tim kecil yang beranggotakan 4 atu 5 orang seperti kami. Asli rame banget....


Gara-gara bolak-balik nyari temen, ada yang telat makan niiih...
Susana Makan Sore bagi Rombongan ke-2 dan ke-3 berlangsung sedikit emosional, Gara-gara gak kompak jalannya, aku terpisah dengan rombongan semenjak di Bukit Cemara Gupung.
Ceritanya sejak berangkat dari pos III kami membagi diri jadi 2 tim, tapi diperjalanan malah aku yang terpisah sendiri dari tim 2. Sebenarnya aku sampai di Pelawangan satu jam yang lalu, tapi setelah beberapa kali mengitari sekitar posko aku tidak jua menemukan TENDA atau anggota Tim I (Iwan n Ahsan). Kucoba hubungi mereka lewat Handphone tak satupun yang bisa karena GA ADA SINYAL BROO........ sementara Handie Talki yang bawa Mr. Ahsan di Tim I dan Paman Emmy di Tim II.


Akhirnya aku memutuskan untuk duduk menanti sambil bersandar pada Cariel ku ditengah-tengah rombongan anak Masbagik yang tengah asyik makan siang pake INDOMIE... Sampai akhirnya aku melihat tubuh yang aku kenal dari kejauhan, Baru saja sampai Pelawangan itulah Tim 2 yang tadi di belakangku. Aku memutuskan “TURUN BUKIT” untuk menghampiri mereka karena aku tidak menemukan 2 orang yang lebih dahulu... 
 
Setelah istirahat sejenak kami bertiga berangkat lagi ke bukit tempatku menunggu tadi, dan lanjut satu bukit lagi, dan satu lagi, hingga akhirnya kulihat seseorang melambaikan tangan ke arah kami dari kejauhan.. Itu Iwan.... Syukurlah akhirnyabisa beristirahat dan langsung tancap gas Makan Sore tanpa pedulikan apapun, siapapun hehehee...Setelah beres-beres barang di tenda, kami menikmati Indahnya Senja dan Segara anak dari atas saat sesekali kabut berlalu, segelas kopi hangat dan sebatang rokok sungguh nikmat...

Cikgu Sammm..

Itteee...

Paman Semmy

Pak Guru Ahsan

BERSAMBUNG......










Menuju Puncak Rinjani, Menanti Sunrise... (2)


Selasa malam/ Malam Rabu, 21 Juli 2015

Selepas shalat Magrib kami lanjutkan dengan membaca Surah Yasin bersama, diteruskan Do’a memohon keselamatan dalam perjalanan menuju puncak dini hari nanti. Ada perasaan tentram setelah kami selesai dan tak merasa kami berada ditempat jauh dari keluarga, yaa.. serasa berada dirumah, letih yang kami rasakan setelah perjalanan dua hari ini tak berasa. Wallahu a’lam... Setelah Shalat Isya kami makan malam dengan lauk sayur seadanya, ditambah “teloq pindang”,plus “sambal terasi” yang terasa uennakk banget, istilahnya “Nyengkruuup” sama suasana dingin bukit pelawangan ini... Abis makan acara santai sambil menikmati minuman hangat, ada banyak pilihan mulai dari teh sariwangi, susu Frisian Flags, Nescafe, Kopi Hitam, Nutrisari dddaaan makanannya adalah Poteng+Timbung, Keciput,Jaje Bawang, Jaje /Gula Jae, Kuping Gajah, kacang telur, dan lain-lain.. Pokoknya Mantabbbsss heheheee.. 

Menikmati Sunset dari Pelawangan Sembalun..
Sembari menikmati semua itu tadi kami memeriksa barang bawaan yang akan kami bawa dan perlengkapan buat muncak dinihari nanti, mulai dari tissue untuk lap ingus (kalo pake kain idung bisa lecet), air minum, permen, minyak kayuputih, frescare, air minum botol tanggung (sayangnya punya saya ketinggalan ditenda saat ganti tas),HP, kamera, dompet dan barang berharga lainnya (waspada lebih baik daripada tidak). Disela-sela suasana agak dingin itu kami diajak maen tebak-tebakan oleh kawan-kawan dari jakarta yang tendanya disebelah kami, lucu juga fikir saya... 

Bapak Negara bersama Bapak Negeri heheheee...
Jam 9.00 kamipun tidur dan tidak lupa do’a sebelum tidur ... Baru saja kami mulai berada di ambang mimpi alias Bruq Klelep, eeh dari sebelah ada yang teriak-teriak “Aro Idik Gamak Inaak” berulang kali... lalu terdengar suara seperti orang muntah-muntah “OOOAAAAQQQ” sayup-sayup terdengar ada yang memarahi si orang yang muntah itu “makanya tadi aku sudah kasitau, jangan terlalu banyak bercanda yang tidak-tidak, “Yeee wah Upaqmu!!!” Hmmm... ada-ada saja fikirku. Kuperbaiki posisi tiduruku dan resleting sleeping bag dan coba pejamkan mata lagi... Saat baru saja anak terlelap “Eh, coba dengar ada suara seperti orang minta tolong” kata salah satu dari tenda sebelah, memang sambil lalu terbawa hembusan angin ada teriakan “Toloooong..toloooong... Aiiiir... Aiiiir...” selain itu juga terdengar suara gonggongan anjing.. Beberapa orang berhamburan dari tenda menuju tempat mata air sambil membawa pedang dan pisau, kami memutuskan diam di tenda karena sudah banyak bantuan dan yang ditolong sudah nampak kembali dari kejauhan. Sambil mencoba pejamkan mata saya merenung mungkin ini yang sering diceritakan tetua ditempat kami bahwa jangan berbuat atau berucap yang tidak-tidak kalau di Gunung karena ada penghuni lain disana... Jam 12.00 atau jam 00.00 kami berempat berangkat, Cikgu Samm ga ikut karena merasa ga kuat, yaah memang sebaiknya istirahat daripada memaksakan diri. 

Saat berangkat menuju puncak rombongan kami adalah yang pertama, hampir salah jalur, kami akhirnya menunggu rombongan lain yang lebih faham jalur. Tapi nampaknya rombongan kedua dan ketiga setelah kami sma juga, tidak faham jalur? karena begitu kami berhenti, mereka juga berhenti, kami jalan, mereka juga jalan, mereka mendahului rombongan kami saat ada tim lain yang nampaknya sudah hafal jalur ini.. Kami tetap menjaga ritme jalan supaya tenaga tidak terlalu diporsir. Bila ada kami temui tebing, kami berhenti dan berlindung dari kerasnya hembusan angin, (kalo naik motor dengan kecepatan 80/90 km/jam terdengar suara ssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss ) angin juga membawa butiran-butiran embun yang terlihat kerlap kerlip terkena senter kepala... 

Dalam perjalanan ini ada juga yang muntah-muntah dan akhirnya memutuskan kembali, “ye Bedugaq lasingan”, kata salah satu temannya. Awalnya takut menengok ke kiri dan kanan tebing curam karena SubhanAllah... kami berjalan di punggung tebing yang lebarnya berapa yaa??? pokoknya hanya bisa “beselewanan” dua orang, saat kami berhenti untuk minum, memperbaiki sepatu, sekedar istirahat, ku beranikan seskali menengok ke kiri terlihat kerlap kerlip lampu-lampu jalan dan atau rumah, kanan (Terlihat di bawah seperti nyala Api Unggun yang tak padam, tapi ternyata itu adalah nyala lava Gunung Baru /Anak Gunung Rinjani) lain lagi kalo melihat ke belakang (Nyala lampu senter yang beriring-iringan seperti pawai tujuhbelasan semakin membuatku bersemangat) Lain pula kalo mendongak ke atas belum juga terlihat ujungnya, aku tetap menguatkan hati dan tubuhku dengan tetap membaca basmalah setiap mulai melangkah, ayat kursi, al Fatihah, An Naas dan lain-lain,saat kaki ini terbenam dalam pasir bercampur krikil aku bertakbir “Allahu Akbar” begitu terus menerus hingga sampai disebuah tebing yang cukup tinggi kami bertiga (Iwan, Paman Semmy dan aku) beristirahat bersama beberapa orang pendaki lokal dari Lombok Tengah sembari menunggu Pak Guru Ahsan. 
Bentar lagi Sunrise,,, Bubar jalan..

Semakin lama angin yang berhembus makin kencang, dan dengan kondisi semakin banyak rombongan yang datang dan ingin berlindung dari angin kamipun berdesakan dengan tujuan agar semakin hangat. Dari tempat kami berlindung sekitar sepuluh meter lagi kami sampai di puncak Gunung Rinjani, tapi karena lama duduk dibawah tebing banyak rombongan yang mendahuli ke sana. Yaahhh akhirnya kami mendapat posisi agak dibawah, ga papa lah yang penting aman, daripada memaksakan diri ke pucuknya itu yang udah padat pengunjung. 

So0 Beautifull..


With Mister anu... eh Lupa namanya, heheheee


Blitz camera kalah ma SUNRISE jadi ga kliatan wajah kita..

Pak Guru kakinya Kram nih, jd musti rehat sejenak baru meluncur ke Base Camp...

Jam 5.00 lebih, lupa persisnya, akhirnya di sebelah timur mulai muncul garis oranye,ada yang bilang merah muda pertanda sebentar lagi Matahari Terbit. “Momen” yang luar biasa, melihat Matahari keluar perlahan dari tempat tertinggi Pulau Lombok..Subhanallah Wabihamdihi Subhanallahil Azim, Its Amazing... 

Bersambung .....