Selasa, 29 Desember 2015

Mencapai Asa... PUNCAK RINJANI (1)


Pertengahan Ramadhan 1436 Hijriah / Awal Bulan Juli 2015...

Terdorong rasa penasaran karena selama tiga puluh satu tahun hanya memandangi keindahannya dari kejauhan, hanya pernah mendengar cerita dari teman dan keluarga yang melakukan pengobatan / terapi di “Aik KALAK” akhirnya aku memutuskan untuk ikut bergabung dengan Kak Iwan, Paman Semmy, Pak Guru Ahsan, Cikgu Samm mendaki Gunung Rinjani pada tanggal 20 Juli 2015 (3 hari setelah Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah) 

Berbagai persiapan aku lakukan antara lain selalu menyempatkan olah raga, karena saat itu bulan PUASA sekedar jalan cepat setiap pagi setelah shalat Subuh dan setelah berbuka puasa (sekalian nurunin makanan) atau main bola di halaman rumah sama anak-anakku, minum vitamin 2 kali sehari saat berbuka puasa dan sahur. Karena ini baru pertama kalinya, aku tidak punya perlengkapan Gunung sehingga harus beli Jaket Parasut, Celana Gunung dan Sarung Tangan. Sementara sepatu, masker, head lamp, dan lain-lain aku pinjem. Selain itu kami juga urunan untuk sewa tenda, sleeping bag, tas caril, transport PP, Bahan Makanan, Obat-obatan dll. Dan, ternyata... Kalo mau mendaki gunung itu musti kaya (persiapan ini, itu, lumayan juga biayanya)

Senin, 20 Juli 2015 Saat yang dinanti tiba....


Sekitar jam 05.00 aku sudah bangun, mempersiapkan segala sesuatu dalam tas kecil/tas depek. Setelah Shalat aku berangkat ke Praya dulu karena ada laporan yang akan kutitipkan pada salah seorang teman kantor. Jam 07.30 aku sudah sampai di rumah, dan langsung bergegas karena mobil Panther Open cab yang mngantar kami sudah di depan rumah. Lima belas menit kemudian kami berangkat...


Pendakian di Mulai...


Sekitar Jam 12.00 kami tiba di Sembalun Lawang, setelah memeriksa kelengkapan tas dan perlengkapan lainnya kami berangkat. Namun sebelum itu... Berdo’a Dulu.. Semoga semua berjalan lancar tanpa hambatan... Amin...


Dengan restu orang tua... kami brangkatttt...



Banyak Momen yang tak ingin kami lewatkan begitu saja sambil istirahat, JEPREEEET....
Mungkin ini salah satu yang membuat perjalanan kami sangat-sangat santai... 

Sbelum masuk hutan, makan jeruk dulu...
 
Pos I, tempat dimana perut ini mulai ga karuan, mules dll.. untung ada Madu..


Pos II, Istirahat Sholat ashar di sini, sembari ambil air buat masak. Mata airnya tuh tidak lebih besar dari air ken....

Lupa persisnya jam berapa, POS II (Tengean) disini kami istirahat untuk Shalat Ashar dan Ngambil air untuk memasak karena di Pos III tidak ada Mata Air, sementara kami akan bermalam di pos III (Kokoq Besi)

            Perjalanan dari POS II menuju Pos III kami rasakan sangat jauh karena kaki mulai terasa berat, sementara matahari mulai redup dan akan segera tenggelam. Oleh karena itu kami mempercepat langkah agar sampai di Pos III sebelum gelap. Informasi yang kami peroleh dari beberapa orang yang berpapasan dengan kami ternyata Pos III penuh dengan tenda pendaki. Dan sekitar 100 meter sebelum sampai Pos III kami melihat ada tanah agak lapang dibawah jembatan KokoQ Besi dan tanpa fikir panjang kami turun dan melepas Cariel masing masing. Tenda didirikan dan kamipun langsung berpencar karena perut sudah nggak tahan pengen mengurangi bebannya hehehe... Setelah masing-masing anggota tim melaksanakan tugasnya kami shalat Magrib bergantian, lalu makan malam, shalat Isya trus minum kopi sambil bikin api unggun...Jadi inget masa-masa SMU, (aktif di Pramuka) saat-saat Rihlah sama temen kampus dulu.. Mantabbbb,

Selasa 21 Juli 2015...

          Jam 06.30 pagi kami sudah berangkat menuju ke Pos PELAWANGAN yang katanya paling jam 12 siang sudah sampai, tapi alamaaakkk....??? ini dia pertarungan sebenarnya, jalannya menanjak terus dan lagi dan satu bukit terlewati masih ada lagi didepannya...
Hampir sampai ditempat bernama Cemara Gupung...


kita kesanaaa 






Akhirnya......

            Sekitar jam 2 siang aku tiba di Pelawangan Sembalun, rame banget... dari ujung sampai ujung dekat pepohonan cemara penuh dengan tenda. Hampir tidak ada tempat landai yang kosong, kecuali di dekat posko yang sudah di Booking oleh “Tim Jejak Petualang” kata salah seorang temen dari Masbagik yang menjadi pemandu mereka.. Selain Tim Jejak Petualang sekitar 60 orang, ternyata ada Tim Pendakian Santai Rinjani dari Jakarta sekitar 120 orang, belum touris mancanegara yang terpencar disana sini, pendaki lokal tradisional yang hanya membawa tarpal dan tikar, dan tim kecil yang beranggotakan 4 atu 5 orang seperti kami. Asli rame banget....


Gara-gara bolak-balik nyari temen, ada yang telat makan niiih...
Susana Makan Sore bagi Rombongan ke-2 dan ke-3 berlangsung sedikit emosional, Gara-gara gak kompak jalannya, aku terpisah dengan rombongan semenjak di Bukit Cemara Gupung.
Ceritanya sejak berangkat dari pos III kami membagi diri jadi 2 tim, tapi diperjalanan malah aku yang terpisah sendiri dari tim 2. Sebenarnya aku sampai di Pelawangan satu jam yang lalu, tapi setelah beberapa kali mengitari sekitar posko aku tidak jua menemukan TENDA atau anggota Tim I (Iwan n Ahsan). Kucoba hubungi mereka lewat Handphone tak satupun yang bisa karena GA ADA SINYAL BROO........ sementara Handie Talki yang bawa Mr. Ahsan di Tim I dan Paman Emmy di Tim II.


Akhirnya aku memutuskan untuk duduk menanti sambil bersandar pada Cariel ku ditengah-tengah rombongan anak Masbagik yang tengah asyik makan siang pake INDOMIE... Sampai akhirnya aku melihat tubuh yang aku kenal dari kejauhan, Baru saja sampai Pelawangan itulah Tim 2 yang tadi di belakangku. Aku memutuskan “TURUN BUKIT” untuk menghampiri mereka karena aku tidak menemukan 2 orang yang lebih dahulu... 
 
Setelah istirahat sejenak kami bertiga berangkat lagi ke bukit tempatku menunggu tadi, dan lanjut satu bukit lagi, dan satu lagi, hingga akhirnya kulihat seseorang melambaikan tangan ke arah kami dari kejauhan.. Itu Iwan.... Syukurlah akhirnyabisa beristirahat dan langsung tancap gas Makan Sore tanpa pedulikan apapun, siapapun hehehee...Setelah beres-beres barang di tenda, kami menikmati Indahnya Senja dan Segara anak dari atas saat sesekali kabut berlalu, segelas kopi hangat dan sebatang rokok sungguh nikmat...

Cikgu Sammm..

Itteee...

Paman Semmy

Pak Guru Ahsan

BERSAMBUNG......










Menuju Puncak Rinjani, Menanti Sunrise... (2)


Selasa malam/ Malam Rabu, 21 Juli 2015

Selepas shalat Magrib kami lanjutkan dengan membaca Surah Yasin bersama, diteruskan Do’a memohon keselamatan dalam perjalanan menuju puncak dini hari nanti. Ada perasaan tentram setelah kami selesai dan tak merasa kami berada ditempat jauh dari keluarga, yaa.. serasa berada dirumah, letih yang kami rasakan setelah perjalanan dua hari ini tak berasa. Wallahu a’lam... Setelah Shalat Isya kami makan malam dengan lauk sayur seadanya, ditambah “teloq pindang”,plus “sambal terasi” yang terasa uennakk banget, istilahnya “Nyengkruuup” sama suasana dingin bukit pelawangan ini... Abis makan acara santai sambil menikmati minuman hangat, ada banyak pilihan mulai dari teh sariwangi, susu Frisian Flags, Nescafe, Kopi Hitam, Nutrisari dddaaan makanannya adalah Poteng+Timbung, Keciput,Jaje Bawang, Jaje /Gula Jae, Kuping Gajah, kacang telur, dan lain-lain.. Pokoknya Mantabbbsss heheheee.. 

Menikmati Sunset dari Pelawangan Sembalun..
Sembari menikmati semua itu tadi kami memeriksa barang bawaan yang akan kami bawa dan perlengkapan buat muncak dinihari nanti, mulai dari tissue untuk lap ingus (kalo pake kain idung bisa lecet), air minum, permen, minyak kayuputih, frescare, air minum botol tanggung (sayangnya punya saya ketinggalan ditenda saat ganti tas),HP, kamera, dompet dan barang berharga lainnya (waspada lebih baik daripada tidak). Disela-sela suasana agak dingin itu kami diajak maen tebak-tebakan oleh kawan-kawan dari jakarta yang tendanya disebelah kami, lucu juga fikir saya... 

Bapak Negara bersama Bapak Negeri heheheee...
Jam 9.00 kamipun tidur dan tidak lupa do’a sebelum tidur ... Baru saja kami mulai berada di ambang mimpi alias Bruq Klelep, eeh dari sebelah ada yang teriak-teriak “Aro Idik Gamak Inaak” berulang kali... lalu terdengar suara seperti orang muntah-muntah “OOOAAAAQQQ” sayup-sayup terdengar ada yang memarahi si orang yang muntah itu “makanya tadi aku sudah kasitau, jangan terlalu banyak bercanda yang tidak-tidak, “Yeee wah Upaqmu!!!” Hmmm... ada-ada saja fikirku. Kuperbaiki posisi tiduruku dan resleting sleeping bag dan coba pejamkan mata lagi... Saat baru saja anak terlelap “Eh, coba dengar ada suara seperti orang minta tolong” kata salah satu dari tenda sebelah, memang sambil lalu terbawa hembusan angin ada teriakan “Toloooong..toloooong... Aiiiir... Aiiiir...” selain itu juga terdengar suara gonggongan anjing.. Beberapa orang berhamburan dari tenda menuju tempat mata air sambil membawa pedang dan pisau, kami memutuskan diam di tenda karena sudah banyak bantuan dan yang ditolong sudah nampak kembali dari kejauhan. Sambil mencoba pejamkan mata saya merenung mungkin ini yang sering diceritakan tetua ditempat kami bahwa jangan berbuat atau berucap yang tidak-tidak kalau di Gunung karena ada penghuni lain disana... Jam 12.00 atau jam 00.00 kami berempat berangkat, Cikgu Samm ga ikut karena merasa ga kuat, yaah memang sebaiknya istirahat daripada memaksakan diri. 

Saat berangkat menuju puncak rombongan kami adalah yang pertama, hampir salah jalur, kami akhirnya menunggu rombongan lain yang lebih faham jalur. Tapi nampaknya rombongan kedua dan ketiga setelah kami sma juga, tidak faham jalur? karena begitu kami berhenti, mereka juga berhenti, kami jalan, mereka juga jalan, mereka mendahului rombongan kami saat ada tim lain yang nampaknya sudah hafal jalur ini.. Kami tetap menjaga ritme jalan supaya tenaga tidak terlalu diporsir. Bila ada kami temui tebing, kami berhenti dan berlindung dari kerasnya hembusan angin, (kalo naik motor dengan kecepatan 80/90 km/jam terdengar suara ssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss ) angin juga membawa butiran-butiran embun yang terlihat kerlap kerlip terkena senter kepala... 

Dalam perjalanan ini ada juga yang muntah-muntah dan akhirnya memutuskan kembali, “ye Bedugaq lasingan”, kata salah satu temannya. Awalnya takut menengok ke kiri dan kanan tebing curam karena SubhanAllah... kami berjalan di punggung tebing yang lebarnya berapa yaa??? pokoknya hanya bisa “beselewanan” dua orang, saat kami berhenti untuk minum, memperbaiki sepatu, sekedar istirahat, ku beranikan seskali menengok ke kiri terlihat kerlap kerlip lampu-lampu jalan dan atau rumah, kanan (Terlihat di bawah seperti nyala Api Unggun yang tak padam, tapi ternyata itu adalah nyala lava Gunung Baru /Anak Gunung Rinjani) lain lagi kalo melihat ke belakang (Nyala lampu senter yang beriring-iringan seperti pawai tujuhbelasan semakin membuatku bersemangat) Lain pula kalo mendongak ke atas belum juga terlihat ujungnya, aku tetap menguatkan hati dan tubuhku dengan tetap membaca basmalah setiap mulai melangkah, ayat kursi, al Fatihah, An Naas dan lain-lain,saat kaki ini terbenam dalam pasir bercampur krikil aku bertakbir “Allahu Akbar” begitu terus menerus hingga sampai disebuah tebing yang cukup tinggi kami bertiga (Iwan, Paman Semmy dan aku) beristirahat bersama beberapa orang pendaki lokal dari Lombok Tengah sembari menunggu Pak Guru Ahsan. 
Bentar lagi Sunrise,,, Bubar jalan..

Semakin lama angin yang berhembus makin kencang, dan dengan kondisi semakin banyak rombongan yang datang dan ingin berlindung dari angin kamipun berdesakan dengan tujuan agar semakin hangat. Dari tempat kami berlindung sekitar sepuluh meter lagi kami sampai di puncak Gunung Rinjani, tapi karena lama duduk dibawah tebing banyak rombongan yang mendahuli ke sana. Yaahhh akhirnya kami mendapat posisi agak dibawah, ga papa lah yang penting aman, daripada memaksakan diri ke pucuknya itu yang udah padat pengunjung. 

So0 Beautifull..


With Mister anu... eh Lupa namanya, heheheee


Blitz camera kalah ma SUNRISE jadi ga kliatan wajah kita..

Pak Guru kakinya Kram nih, jd musti rehat sejenak baru meluncur ke Base Camp...

Jam 5.00 lebih, lupa persisnya, akhirnya di sebelah timur mulai muncul garis oranye,ada yang bilang merah muda pertanda sebentar lagi Matahari Terbit. “Momen” yang luar biasa, melihat Matahari keluar perlahan dari tempat tertinggi Pulau Lombok..Subhanallah Wabihamdihi Subhanallahil Azim, Its Amazing... 

Bersambung ..... 

Sabtu, 26 Desember 2015

GUNUNG RINJANI ADALAH SAMALAS???...



Selama ini letusan dan erupsi gunung Krakatau dan gunung Tambora dianggap paling dahsyat di Indonesia, ternyata ada satu gunung lagi yang mengalahkan keduanya.
Peneliti telah mengamati jejak abu dan beberapa serpihan kimia dari sebuah gunung api yang pernah meletus dengan dahsyat dari jejaknya pada lapisan es, baik yang berada di Kutub Utara maupun di Kutub Selatan.
Namun sejauh ini masih menuai misteri, karena belum ditemukan gunung api yang meletus dan bertanggung jawab atas jejak-jejak abu di lapisan es tersebut.
Para ilmuwan mengatakan, temuan yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, itu adalah bahwa letusan gunung berapi tersebut adalah yang terbesar dalam 7.000 tahun terakhir, namun asal-usulnya telah membingungkan glaciologists, vulkanologi, dan ahli iklim selama beberapa dekade.
Yang sejauh ini peneliti ketahui, pada masa lalu sekitar tanggal 05 April 1815, gunung Tambora meletus dan mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia. Bahkan letusannya juga melahirkan gelombang tsunami besar di kala itu.
Setelah Tambora, 68 tahun kemudian yaitu pada tanggal 27 Agustus 1883, gunung Krakatau meletus dengan hebat. Bahkan awan abunya sempat menutupi hampir seperempat bagian dari bumi.
Selain keduanya, menurut para peneliti, ternyata sekitar tahun 1257 ada gunung berapi lain di Indonesia yang juga meletus dengan dahsyat, yaitu gunung Samalas.
Karena letusan gunung Samalas tersebut, selain membuat banyak orang yang meninggal, suhu kala itu turun drastis dan banyak petani dari seluruh dunia yang mengalami gagal panen.
Kini struktur gunung itu telah berubah semenjak terjadi letusan pada masa lalu itu, dan diperkirakan letusan gunung satu ini lebih dahsyat dibandingkan dengan gunung Krakatau bahkan gunung Tambora!
Observasi lapangan pada lapisan piroklastik dari Letusan Gunung Samalas menunjukkan ketebalan maksimum yang diukur melebihi 1 m, dan kumulatif deposito jatuh mencapai hingga 1.60m
Peneliti Mencari “Pelaku” berdasarkan Catatan Letusan “Yang Gelapkan Dunia”
Sebuah ledakan misterius terjadi pada 1257, di abad ke-13. Saking dahsyatnya, jejak kimiawinya terekam dalam es di Arktik dan Antartika.
Teks dari Abad Pertengahan menceritakan tentang iklim yang secara mendadak mendingin dan panen yang gagal. Membuat warga susah, bahkan diduga banyak yang tewas.
Dan baru kini para ilmuwan menemukan gunung berapi yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.
Dalam jurnal sains, PNAS, tim internasional menunjuk pada Gunung Samalas di Pulau Lombok, Indonesia yang ini dikenal sebagai Gunung Rinjani. Hanya sedikit struktur gunung api yang tersisa dan kini tampilannya hanya berupa danau kawah Segara Anak.
Gunung yang bernama Samalas yang kini “hampir tak tersisa dan hanya tinggal sisa letusannya” – sekarang lebih dikenal bernama Gunung Rinjani di Pulau Lombok, dituding sebagai penyebab perubahan iklim mendadak di abad pertengahan untuk wilayah Eropa dan sekitarnya.
Nah, ternyata inilah gunung yang dianggap bertanggung jawab telah menorehkan jejak-jejak abu vulkaniknya di lapisan es di kedua kutub Bumi.
Tim ilmuwan mengaitkan jejak sulfur dan debu di es di kutub dengan data yang ditemukan di wilayah Lombok, termasuk unsur radiokarbon, tipe dan penyebaran batu dan abu, cincin pepohonan, dan bahkan sejarah lokal yang menyebut tentang runtuhnya Kerajaan Lombok di suatu masa Abad ke-13.
“Buktinya sangat kuat dan menarik,” kata Profesor Clive Oppenheimer dari Cambridge University, Inggris, seperti dimuat BBC, 30 September 2013.
Profesor Clive Oppenheimer dari Cambridge University, Inggris.
Koleganya sesama ilmuwan, Profesor Franck Lavigne dari Pantheon-Sorbonne University, Prancis menambahkan, “Kami melakukan sesuatu yang mirip investigasi kriminal.”
“Awalnya kami tak tahu siapa tersangkanya, hanya berbekal hari ‘pembunuhan’ dan jejaknya dalam bentuk geokimia di inti es. Itu memungkinkan kami melacak gunung yang bertanggung jawab.”
Sebelumnya, para peneliti lain mengatakan bahwa terjadi perubahan iklim mendadak dikarenakan letusan gunung api Okataina di Selandia Baru dan El Chichon di Meksiko, namun bukti lain menyebutkan bahwa Samalas yang menjadi kandidat kuat sebagai ‘pelakunya.’
“Buktinya sangat kuat dan menarik,” kata Clive, seperti dikutip BBC (01/10/2013). Selain menjadi ‘pelaku’ berubahnya iklim secara mendadak di sebagian wilayah di planet ini, letusan dan erupsi Samalas juga dikait-kaitkan dengan sejarah lokal yaitu jatuhnya Kerajaan Lombok sekitar abad 13.
Bukti lain, seperti yang dituliskan di National Geographic (01/10/13), adalah terdapatnya teks dalam bahasa Jawa, Babad Lombok, yang menceritakan sebuah erupsi besar dari gunung api raksasa bernama Samalas yang akhirnya menciptakan sebuah kaldera atau kawah.
Ledakan 1257 tersebut sebelumnya dikira terkait sejumlah gunung di Meksiko, Ekuador, dan Selandia Baru. Namun, berdasarkan penelitian, sejumlah kandidat tersebut gagal memenuhi prasyarat karbon dating dan geokimia. Hanya Samalas yang cocok.
Letusan-letusan gunung api besar di dunia (wikipedia).
Peristiwa Global
Tim yang langsung turun ke Lombok mengindikasikan setidaknya 40 kilometer kubik batuan dan debu terlontar dari gunung yang mengamuk. Dengan ketinggian lebih dari 40 kilometer ke langit.
Ledakan tersebut pastilah luar biasa, hingga bisa mengirim material itu ke seluruh dunia, dalam jumlah yang signifikan untuk dilacak sampai ke Greenland dan lapisan es Antartika. Dan, akibatnya pada iklim juga luar biasa.
Perbandingan letusan besar gunung terkenal di dunia dengan Samalas
Teks-teks Abad Pertengahan mendeskripsikan cuaca yang mengerikan di musim panas tahun berikutnya, pada 1928: dingin, hujan yang tak kunjung berhenti, hingga memicu banjir.
Para arkeolog baru-baru ini juga menentukan perkiraan tahun kematian pada 1258 pada ribuan orang yang dimakamkan di kuburan massal di London.
“Kami belum bisa memastikan dua kejadian tersebut — meletusnya Samalas dengan kematian massal di London. Namun, warga di masa itu pasti sangat tertekan.”
Jika dibandingkan, kekuatan ledakan Samalas setidaknya sama besar dengan Krakatau (1883) dan Tambora (1815).
Inti es juga menyimpan jejak peristiwa kolosal pada 1809 yang masih jadi misteri. Seperti halnya jalan panjang menemukan Samalas, proses untuk mengetahui asal muasal peristiwa 1809 akan sulit.
“Luar biasa bahwa kita belum menemukan bukti dari peristiwa itu. Namun, tak ada tempat di dunia yang bisa mengubur kabar buruk seperti itu.”
Jadi apabila penelitian ini benar, maka ada 4 gunung api dengan letusan dan erupsi maha dahsyat di Indonesia, yaitu gunung Toba, gunung Tambora, gunung Krakatau dan kini, gunung Samalas. (BBC/ Ein/Yus/gunungrinjani.net/ pnas.org/ liputan6/ National Geographic)

Peta ini menunjukkan distribusi arus kepadatan piroklastik (pDCs) dari letusan Samalas dan lokasi sampel arang yang digunakan untuk penanggalan radiokarbon. Ledakan besar yang terjadi hampir 800 tahun yang lalu, mungkin telah membuat kota Pompeii terkubur, menurut para peneliti. (Distribution of PDCs from the Samalas eruption and location of charcoal samples used for radiocarbon dating) (pnas.org).

Sumber letusan juga telah dipersempit ke gunung berapi Samalas di Pulau Lombok di Indonesia . Hari ini , semua yang tersisa adalah sebuah danau kawah besar. (Samalas caldera and Segara Anak. (A) Photograph of the present caldera viewed from the east (photo: Zulz, “Gunung Baru” June 26, 2006 via Flickr, Creative Commons License). (B) Present (shaded tones surface) and preexplosion reconstructed topography (black grid). We assume that a caldera was absent before the mid-13th century eruption, because no other large Plinian eruption has been identified) (pnas.org).

Peta ini menunjukkan adanya batu apung yang besar dan sangat ringan dan berpori-batu vulkanik hingga 50 mm pada 46-km jarak tenggara dari ventilasi di Sumbawa. Para ilmuwan mengklaim ini menunjukkan besarnya besar letusan Samalas. (Isopach maps for Samalas plinian and phreatoplinian fall deposits. (A) Samalas F1 compared with the F4 Plinian fall unit of Tambora A.D. 1815 (20, 21). (B) Samalas F2 Phreatoplinian fall unit. (C) Samalas F3 Plinian fall unit. Isopachs were mapped for the F1, F2, and F3, from 44, 22, and 18 thickness measurements in the field, respectively. Interpolation of the data using a multiquadratic radial model was the first step in constructing the final isopach maps. Although much less widespread than the F1 unit, the distributions of the F2 and F3 units are both broader than the main Plinian fall unit of Tambora 1815) (pnas.org).

Radiocarbon and calibrated ages of the charcoal samples from the Samalas pyroclastic density current deposits using OxCal 4.2.2 and IntCal 09 (32, 33). Although some ages are older, none is younger than A.D. 1257 (at 95% confidence level). Based on this model, the Samalas eruption cannot be correlated with ice-core sulfate anomalies at A.D. 1275 and A.D. 1284 (2), which are clearly too young for our A.D. 1257 age model. This interpretation is consistent with written sources as discussed in the text (pnas.org).

Geochemistry of matrix glass [total alkalis vs. silica (TAS) diagram] sampled in pyroclastic fall deposits of the Samalas eruption, compared with the reported composition (13) of glass shards found in polar ice cores for the mid-13th century mystery eruption (mean ± 1σ). (pnas.org).


Dikutip dari https://indocropcircles.wordpress.com/2013/12/03/letusan-samalas-aka-rinjani/