Rabu, 29 Juni 2016

"JALUR PENDAKIAN RINJANI TERBARU"

Ini dia jalur terbaru pendakian Gunung Rinjani... Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) baru saja membuka jalur baru menuju Danau Segara Anakan melalui Desa Air Berik, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah.
jalur pendakian gunung rinjani
Air Terjun Benang Stokel
Jalur pendakian Gunung Rinjani Aik Berik baru resmi dibuka 20 Mei 2016. Sebenarnya, jalur ini sudah lama digunakan beberapa pendaki, namun belum sepopuler jalur Senaru dan Sembalun. BTNGR baru meresmikan jalur ini karena mempertimbangkan animo pendakian Gunung Rinjani.
Jalur ini relatif lebih dekat jika dibandingkan dengan jalur pendakian Rinjani via Sembalun. Jika melewati jalur ini, para pendaki membutuhkan waktu sekitar 8 jam untuk mencapai Danau Segara Anakan. Terpaut 2 jam lebih cepat dari jalur Sembalun yang memerlukan waktu 10 jam untuk sampai di Segara Anakan.
Jika Anda mendaki melalui jalur ini, Anda tak perlu khawatir untuk kekurangan persediaan air. Karena Anda bisa memperoleh 6 sumber mata air di sepanjang jalur pendakian Gunung Rinjani Aik Berik. Keenam sumber mata air tersebut adalah Sungai Tereng, Sungai Geres, Monte, Pondok Amak Ros, Sungai Umar Maye dan di Sungai Terakhir yang berada di bawah Pelawangan Umar Maye.
Mendaki melalui jalur Aik Berik mempunyai beberapa keuntungan. Selain jarak waktu tempuh yang lebih singkat, Anda akan disuguhi panorama alam yang indah dan hutan yang lebat. Trek pendakian juga cenderung lebih landai. Bonusnya lagi, Anda bisa bertemu aneka ragam satwa hutan liar seperti rusa, babi rusa, landak, dan berbagai jenis burung.
Untuk mencapai jalur baru ini, Anda bisa terbang menuju Lombok Tengah. Setelah itu, Anda bisa menggunakan mobil atau kendaraan lain menuju kecamatan Batukliang. Dari Batukliang, Anda pergi menuju Desa Aik Berik.
Dengan resmi dibukanya jalur pendakian Gunung Rinjani Aik Berik berarti total terdapat 4 jalur pendakian Gunung Rinjani. Tiga lainnya yaitu Jalur Timbanuh Kecamatan Pringgasela, Jalur Sembalun Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur, dan Jalur Senaru Kabupaten Lombok Utara.

("RUMAHKU,ISTANAKU, SYURGAKU....")

Sebuah rumah kecil berdiri di pinggir jalan, sebuah kampung di desaku.. sederhana, namun penuh makna, makna perjuangan dalam kehidupan. Tempat aku dan keluarga kecilku bernaung, tempat dimana kami setiap pagi berangkat mencari rizki, menuntut ilmu, hingga saat kami harus kembali pulang...

Tempat istirahat sederhana yang terbangun dari asa dan harapan, tempat berteduh dari terik mentari dan hujan. ya Inilah rumahku, syurgaku adalah rumahku, setidaknya inilah yang dapat ku ungkapkan. Perasaan Syukur atas kemurahan Tuhan ketika hamba mempunyai keinginan dan terus berjuang tuk meraihnya. "ISTIQOMAH"...

Rasa syukur juga tak lepas dari pengalaman sejak kecil saat orang tuaku yang PNS kelas rendah membawa kami (tiga bersaudara) pindah rumah (dinas) setiap 3/4 tahun. Baru pada saat menginjak kelas II SMU akhirnya sebuah rumah terbeli oleh bapak dari sisa-sisa gaji selama bertahun-tahun...

Dan..
Kini dalam usia 5 tahun perkawinan, aku dapat membangun "RUMAH IMPIAN" yang dulu sangat sulit terwujud dalam keluarga kami... Segala Puji bagiMu Allahu Rabbi... Terima kasih bapak-ibu, atas segalanya hingga saat ini..Istriku tercinta yang mendampingi sejak Pertama Ijab Qabul hingga saat ini menjelang kelahiran putra ketiga kita... Anak-anakku yang telah mewarnai hari-hariku menjadi penuh keceriaan...


Selasa, 28 Juni 2016

KERAJINAN ANYAMAN BAMBU DESA LOYOK (identitas yang mulai memudar....)


Miniatur Alang (Balai khas Lombok)

Pada tahun 1990 an kerajinan anyaman bambu di Desa Loyok Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur sangat terkenal hingga ke Mancanegara, mulai dari ASIA Tenggara, Amerika, Eropa dan lain-lain, salah satu yang saya ingat adalah seorang Ibu Guru Seni bernama Patt Grayston dari Shellbrook, Canada.

Saat itu saya masih di bangku Sekolah Dasar di sebuah Dusun desa Montong Ba'an, hampir setiap kali ke rumah almarhum Niniq (Kakek) selalu menjumpai inaq-inaq, dedare-dedare, kanak-kanak, sedang sibuk "ngulat" (menganyam). 

Ibu-ibu muda sedang membuat anyaman "GANDEK" pesanan.
 Bahan baku berupa bambu sangat mudah ditemukan sehingga hampir disetiap halaman rumah pasti ditemukan bilah-bilah bambu yang sedang dijemur untuk diolah menjadi berbagai bentuk kerajinan. Penulis juga masih mengingat bahwa pada saat itu salah satu mata pelajarran di sekolah adalah "Muatan Lokal (Mulok) yang materinya adalah "Membuat anyaman dari bambu".


 Tahun-tahun gemilang "Kejayaan Kerajinan Anyaman Desa Loyok" membawa berkah yang lumayan bagi para pengrajin dan bahkan para pemuda-pemuda desa, karena mereka dapat mengumpulkan uang dari menerima pekerjaan dari pengusaha-pengusaha "ART SHOP" yang mendapat pesanan dari Bos-Bos eksportir dari Bali dan Daerah lainnya. Para pengusaha ART SHOP banyak yang sukses... Namun tanpa disangka situasi yang cukup nyaman itu terhenti karena peristiwa "Bom Bali" meletus, Pengusaha dan pengrajin anyaman pun harus menerima dampaknya. Pesanan terhenti dan para pengrajin harus mencari pekerjaan tetap lainnya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Saat ini masih tersisa sedikit saja "ART SHOP di Desa Loyok, itu karena sang pemilik ART SHOP juga menekuni pembuatan kerajinan anyaman bambu, meskipun pesanan(order) dari Pengusaha hanya sedikit.
Hal ini juga sangat berpengaruh terhadap minat generasi muda, terutama anak-anak untuk mempelajari cara pembuatan berbagai anyaman bambu ini. Dibutuhkan adanya pembinaan dan perhatian dari pemangku kebijakan di Daerah (Kabupaten dan Propinsi) untuk melestarikan Budaya, Keterampilan yang sudah sejak lama menjadi IDENTITAS Desa ini.





Sebuah kebetulan pada bulan Mei lalu penulis melaksanakan tugas sensus dari sebuah institusi, dan salah satu usaha yang menjadi objek sensus adalah para pengrajin anyaman bambu. Ternyata selama ini para pengrajin itu hanya melakukan pekerjaan (menganyam) untuk mengisi kekosongan waktu mereka. Karena imbal jasa yang mereka dapatkan tidak seberapa, bahkan menurut saya sangat tidak pantas. namun inilah realitas yang ada di depan mata.... Banyak diantara mereka yang mengira saya akan datang mencatat nama mereka untuk mendapatkan "BANTUAN" dari pemerintah, namun saya hanya bisa menjawab dengan senyum, senyum yang mereka artikan dengan HARAPAN akan datangnya sebuah Program pemberdayaan (Optimisme berlebihan karena pengalaman sebagai pendamping Program heheheheee..)


Semoga dengan terbitnya tulisan ini ada Pihak yang memberikan respons positif baik berupa saran, syukur-syukur ada Program Pemberdayaan demi Tumbuh dan Berkembangnya perekonomian masyarakat seiring dengan semakin meningkatnya kunjungan touris Mancanegara berkat adanya BANDARA INTERNASIONAL serta Program Pemerintah Propinsi NTB VISIT LOMBOK SUMBAWA, semoga juga ada Visit LOYOK dan lainnya, Amin...