Selasa, 28 Juni 2016

KERAJINAN ANYAMAN BAMBU DESA LOYOK (identitas yang mulai memudar....)


Miniatur Alang (Balai khas Lombok)

Pada tahun 1990 an kerajinan anyaman bambu di Desa Loyok Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur sangat terkenal hingga ke Mancanegara, mulai dari ASIA Tenggara, Amerika, Eropa dan lain-lain, salah satu yang saya ingat adalah seorang Ibu Guru Seni bernama Patt Grayston dari Shellbrook, Canada.

Saat itu saya masih di bangku Sekolah Dasar di sebuah Dusun desa Montong Ba'an, hampir setiap kali ke rumah almarhum Niniq (Kakek) selalu menjumpai inaq-inaq, dedare-dedare, kanak-kanak, sedang sibuk "ngulat" (menganyam). 

Ibu-ibu muda sedang membuat anyaman "GANDEK" pesanan.
 Bahan baku berupa bambu sangat mudah ditemukan sehingga hampir disetiap halaman rumah pasti ditemukan bilah-bilah bambu yang sedang dijemur untuk diolah menjadi berbagai bentuk kerajinan. Penulis juga masih mengingat bahwa pada saat itu salah satu mata pelajarran di sekolah adalah "Muatan Lokal (Mulok) yang materinya adalah "Membuat anyaman dari bambu".


 Tahun-tahun gemilang "Kejayaan Kerajinan Anyaman Desa Loyok" membawa berkah yang lumayan bagi para pengrajin dan bahkan para pemuda-pemuda desa, karena mereka dapat mengumpulkan uang dari menerima pekerjaan dari pengusaha-pengusaha "ART SHOP" yang mendapat pesanan dari Bos-Bos eksportir dari Bali dan Daerah lainnya. Para pengusaha ART SHOP banyak yang sukses... Namun tanpa disangka situasi yang cukup nyaman itu terhenti karena peristiwa "Bom Bali" meletus, Pengusaha dan pengrajin anyaman pun harus menerima dampaknya. Pesanan terhenti dan para pengrajin harus mencari pekerjaan tetap lainnya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Saat ini masih tersisa sedikit saja "ART SHOP di Desa Loyok, itu karena sang pemilik ART SHOP juga menekuni pembuatan kerajinan anyaman bambu, meskipun pesanan(order) dari Pengusaha hanya sedikit.
Hal ini juga sangat berpengaruh terhadap minat generasi muda, terutama anak-anak untuk mempelajari cara pembuatan berbagai anyaman bambu ini. Dibutuhkan adanya pembinaan dan perhatian dari pemangku kebijakan di Daerah (Kabupaten dan Propinsi) untuk melestarikan Budaya, Keterampilan yang sudah sejak lama menjadi IDENTITAS Desa ini.





Sebuah kebetulan pada bulan Mei lalu penulis melaksanakan tugas sensus dari sebuah institusi, dan salah satu usaha yang menjadi objek sensus adalah para pengrajin anyaman bambu. Ternyata selama ini para pengrajin itu hanya melakukan pekerjaan (menganyam) untuk mengisi kekosongan waktu mereka. Karena imbal jasa yang mereka dapatkan tidak seberapa, bahkan menurut saya sangat tidak pantas. namun inilah realitas yang ada di depan mata.... Banyak diantara mereka yang mengira saya akan datang mencatat nama mereka untuk mendapatkan "BANTUAN" dari pemerintah, namun saya hanya bisa menjawab dengan senyum, senyum yang mereka artikan dengan HARAPAN akan datangnya sebuah Program pemberdayaan (Optimisme berlebihan karena pengalaman sebagai pendamping Program heheheheee..)


Semoga dengan terbitnya tulisan ini ada Pihak yang memberikan respons positif baik berupa saran, syukur-syukur ada Program Pemberdayaan demi Tumbuh dan Berkembangnya perekonomian masyarakat seiring dengan semakin meningkatnya kunjungan touris Mancanegara berkat adanya BANDARA INTERNASIONAL serta Program Pemerintah Propinsi NTB VISIT LOMBOK SUMBAWA, semoga juga ada Visit LOYOK dan lainnya, Amin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar